*sujudsyukur*
Alhamdulillah, hari ini adalah hari di mana ujian kenaikan kelas (UKK) saya berakhir. UKK berakhir, tapi remedialnya belum berakhir. Dengan standar nilai yang cukup tinggi bagi saya, dari 15 mapel saya remed 8, Oh tidakkk. Disitu kadang saya merasa sedih, dan semuanya tiba-tiba harus dikumpulkan besok, yap hari jum’at. Di sela-sela mengerjakan tugas remedial ini saya akan menulis.
Kompor gas, pagi hari diawali dengan tragedi kompor, jadi ceritanya begini. Pagi, di dapur, saya akan memasak air untuk memperoleh air hangat yang akan digunakan untuk saya mandi. Tidak ada yang salah ketika saya meletakkan ceret di atas tungku kompor dan kemudian menghidupkan apinya. *cteekkk*, setelah saya tinggal beberapa saat, saya melihat ada kobaran api yang cukup besar sehingga menutupi badan ceret. Saya kaget, berlari menuju ke kompor, mengangkat ceret nya, lalu mematikan api, tapi api di tungku kompor itu tidak mati. Saya takut, keluar meminta pertolongan, meronta-ronta, menginginkan dia kembali berpikir sejenak, lalu otak saya memvisualisasikan. *biasanya di sinetron sinetron jika ada masalah dengan kompor gas, apinya nyala, ada masalah di selang gasnya, lalu tabung gasnya meledak* seperti itu otak saya memvisualisasikan kejadian yang akan terjadi, sinetron sungguh tidak baik untuk ditonton L. Tidak ingin kejadian seperti itu terjadi, karena sungguh aneh jika tiba-tiba terdengar suara ledakan di pagi hari hanya karena ingin mandi air hangat. Saya mengambil ember yang berisi air di belakang rumah, dan kemudian menumpahkan airnya ke tungku kompor yang tadi apinya masih menyala. *byurrrr* sekarang apinya sudah padam. #sayamahgituorangnya
Celana sobek, karena celana cokelat pramuka punya saya ada 3, panjang ceritanya. Saya tiba-tiba memilih celana yang sebelumnya jarang saya pakai. Ketika memakainya, saya sudah mempunyai firasat buruk, tetapi saya berpikir positif saja. Setelah ujian jam ke 2 sudah berakhir. Saya dan teman-teman berkumpul di pendopo sekolah, siswa-siswi dari setiap kelas tumpah di sini. Dari mulai mengerjakan tugas, berinternet-ria dengan wifi gratis, membaca buku, duduk berdua dengan pacar, duduk berdua dengan gebetan, duduk berdua dengan mantan calon gebetan yang udah punya pacar, Ya dunia memang sekejam itu. Yah, saya di sini menemani Adi mengerjakan tugas remedialnya dengan laptop saya di depan gerumbulan cewek-cewek(sebut saja geng Y), kemudian saya meninggalkannya untuk berkumpul dengan teman-teman(sebut saja geng X) yang lain di tempat yang tidak jauh dari tempat Adi mengerjakan tugas, masih di dalam area pendopo. Kebetulan posisi gerumbulan teman saya itu agak ke tengah tengah pendopo (pendopo ini bentuknya kotak) saya mengambil posisi duduk dengan membuka kaki lebar-lebar, dan.......... kemudian duduk.... *kraaaak* iya serius, bunyinya krakkk. Tidak seperti hati yang meskipun berkali-kali disakiti dia tetap diam, membisu, tidak berbunyi. Saya langsung terduduk, terdengar suara ‘Aaaaaaaaa, hahaha’ , dan melihat sekitar, terlihat ada pandangan ilfeel dan ketawa kecil di antara teman-teman yang sedari tadi ngaso di pendopo. Mencoba menutupi celana cokelat saya dengan duduk menempelkan pantat ini ke lantai. -_- di geng X ada teman saya bernama Hans sedang memakai jaket berwarna putih, ya jaket berwarna putih. ‘Hans, pinjem jaket hans, cepetan, Hans’, ‘Ya ampun bro, itu aku nyuci jaket seminggu....’ langsung saya potong.. ‘enggak, bentar tok Hans, cuma buat ngambil sweaterku yang ada di motor’ saya langsung memakaikan jaket itu di pantat saya. Saya memakirkan motor di parkiran kelas 11, jadi agak jauh jaraknya dari pendopo. Ya, seperti anak perempuan kalau lagi PMS. Saya berjalan melewati koridor sekolah, ada yang nyeletuk ‘Tembus ta Ndu??!!’, ‘Pandu lagi PMS??!! hanya terbalas senyum tipis olehku. Muehehehe *evillaugh*. Sesampainya di parkiran, saya langsung memakai sweater, menggantikan jaketnya Hans. Ketika saya keluar area parkir, ada salah satu teman saya(sebut saja F) menarik sweater, kemudian terlihat oleh teman saya perempuan(yang saya sendiri tidak kenal) sumpah rasanya malu sekali, karena sobeknya lebar. X-X saya kembali ke pendopo sekolah untuk mengembalikan jaketnya Hans. Karena tidak nyaman dengan pakaian seperti ini, saya mengajak teman saya di geng X tadi untuk pulang ke rumah dan berganti celana. Akhirnya saya sudah bergerak bebas dan leluasa kembali
Perpus Kota, karena di pendopo sudah suntuk. Saya mengajak Hafidz ke Perpustakaan Kota yang jaraknya cukup jauh jika diukur dari sekolah saya. Berniat untuk mengerjakan tugas remedial mata pelajaran sejarah umum, kami berdua berangkat, tentunya dengan membawa motor sendiri-sendiri. Di Surabaya, macet. Sesampainya di Perpustakaan Kota, kami masuk ke dalam dan mulai mengerjakan tugas. Ternyata ada teman saya juga, teman SMP namanya Rama. ‘Eh Ndu, sama siapa ke sini? ‘Rama, sepertinya Rama tidak melihat Hafidz, atau sedang berbasa-basi. ‘ini *menunjuk Hafidz*’ Pandu, ‘Ngapain?’ Rama, ‘Ngerjain tugas ini lho, buanyak’ Pandu. Ya kira-kira seperti itu, kemudian saya bertanya juga dia ke sini dengan siapa, dia hanya menjawab ‘sama adik kelasku, cuma mbaca-mbaca’. Wih, keren juga Rama mengajak adik kelasnya membaca adalah sesuatu yang keren, di sini saya berpikir adik kelas itu laki-laki, bukan perempuan. Ternyata setelah saya menengok kanan, dia duduk bersebelahan dengan perempuan. Ow ow ow, modus. Setelah dilihat-lihat lagi, ternyata di perpustakaan ini banyak yang lagi berdua-duaan. *Mengapaaaaa harus beginiiiiii* Mengerjakan tugas, setengah jalan karena laptop saya baterainya habis. Saya memutuskan untuk mencari buku yang kemarin saya baca di sini. Setelah mencari-cari bukunya, saya menemukannya. Saya adalah tipe orang yang jika membaca akan mengantuk, setelah setengah jam membaca saya tertidur. Ini adalah foto saya ketika tertidur, serius. #bukanselfie
Akhirnya saya menyelesaikan buku itu, Judul bukunya Suer, Menulis itu Mudah ditulis oleh Ersis Warmansyah Abbas yang menemukan EWT (Ersis Writing Theory). Gimana itu? Jadi kita harus belajar menulis dengan terus menulis, menuangkan apa yang ada dalam pikiran. Ini salah satu paragraf di bukunya.
“Intinya EWT mengajak kita semua untuk menulis, menulis, dan terus menulis. Karena dengan menulislah kita membangun keterampilan dan kompetensi menulis. Dengan menulislah kita membelajarkan diri, membangun pengetahuan, dan menumpuk pengalaman yang kemudian ditulis agar bermanfaat. Sederhana bukan? Tetapi menulis itu kan tidak semudah membalik telapak tangan?.............”
Dalam buku itu, dijelasin juga kalo membaca dan menulis itu mempunyai korelasi yang sangat kuat. Selain menambah pengetahuan, membaca juga memperbanyak perbendaharaan kata yang kita punya buat ditulis tentunya. Iya aku bakal mbaca meski harus tertidur dan terbangun lagi....
Ya, gara gara buku ini aku jadi nulis ini postingan dengan penuh kekakuan bahasa ini, aaahh sudahlah.. Tapi tumben-tumbenan lho aku bisa nulis dengan lancar gini. Ya nulis aja gitu, nggak tau kenapa kok yang atas bisa KUAKU, suer itu kaku banget. Mending nulis kayak gini ya/? hehehe
*postingan macam apa ini* mbatin
Intinya nulis, nulis, dan nulis kan?? Oke ini udah nulis muehehe,
Eh iya..... Tugas remedialku *ngerjain tugas*
sayangnya ujian-ujian sekarang semuanya objektif... kalau tidak tahu jawabannya, tinggal pilih sembarangan... a b c atau d... alhasil, banyak saya dengar mahasiswa yang kemampuan menulisnya, walaupun bukan ilmiah, namun sangat memprihatinkan...
ReplyDeletekalau essay... siswa masih bisa menjawab walaupun mengarang bebas, tapi paling tidak siswanya sudah belajar menulis walaupun fiktif belaka.... selamat mas bro... semoga anda menjadi generasi penulis bangsa ini... B)
weh mas kuli kampus, aduh tulisan itu masih acakadul gini.... semoga amin, makasih mas
DeleteAhhhhhhhh postingan macam apa iniii :D
ReplyDeleteaihhhhh postingan macam apa ini heuheuheuheu
Deletehe nduuuu guejee wkwk:)))). btw semangat nulis y, calon penulis !!!
ReplyDeletehai mbak chanza, gueje yo.. semangat! :-) Calon penulis kampretlah
DeleteLebih semangat lagi yaa di kelas 12 nya..
ReplyDeleteJangan remed banyak *ngaca :(
iyo iyoo :p
Delete